CIREBON,(KC Online).-

Kukang Jawa menjadi salah satu korban jual beli satwa ilegal di Pantura Jawa Barat.

Penjualan satwa yang dilindungi ini terungkap oleh Polres Majalengka pada Rabu (9/1/2019) lalu, saat menggerebek tempat penampungan satwa langka yang dilindungi di Dusun Citayeum, Desa Cibodas, Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka.

Dari hasil penangkapan tersebut, tercatat sebanyak 79 ekor Kukang diamankan Satreskrim Polres Majalengka Jawa Barat. Polres Majalengka kemudian menyerahkan hasil tangkapan tersebut ke Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jawa Barat wilayah VI, Jumat (11/1/2019), di Kabupaten Cirebon.

Dokter Hewan Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia Wendi Prameswari mengatakan, dari jumlah Kukang yang diamankan, tiga ekor dinyatakan mati. Kukang tersebut mati karena stress, mall nutrisi, dan dehidrasi karena kekurangan makanan.

“Kami periksa kesehatan 76 ekor kukang yang masih hidup hasil penyerahan Polres Majalengka ke BKSDA. Sejauh ini Kukang dalam kondisi sehat, gigi lengkap dan memiliki potensi untuk dilepasliarkan kembali dalam waktu dekat,” kata dia usai pemeriksaan di BKSDA.

Ia juga mengatakan, selama di resort, tim IAR dan BKSDA Jawa Barat memberi obat cacing, obat kutu, vitamin dan penambah pakan. Dia mengatakan, kasus penangkapan kukang secara ilegal tersebut merupakan terbesar pertama di Jawa Barat setelah penangkapan 34 ekor kukang di Polda Jabar pada tahun 2016 lalu.

“Di Indonesia ini kasus terbesar nomor dua setelah sebelumnya kami tangani 238 ekor tahun 2013 di Sumatera,” ujarnya.

Dokter Wendi menjelaskan, maraknya perburuan kukang karena hewan nocturnal tersebut dikenal lucu. Sehingga membuat masyarakat tertarik memelihara.

Selain itu, kukang juga kerap digunakan sebagian masyarakat sebagai salah satu syarat mistis. Kukang juga banyak ditangkap untuk dijadikan minyak pelet sebagai pengobatan tradisional.

Namun demikian, dia mengungkapkan, status kukang sudah dinyatakan Critically Endangered atau satwa yang dilindungi. Populasi kukang jawa mengalami penurunan hingga 80 persen selama 24 tahun terakhir.

Penurunan tersebut akibat hilangnya habitat hingga menyisakan hanya 20 persen area yang masih layak.

“Jumlah populasi belum diketahui secara pasti karena survei kukang terbilang jarang sekali tapi seiring dengan kita sering melihat kasus perdagangan satwa ilegal kukang maka statusnya semakin terancam,” katanya.

Kasi Konservasi Wilayah VI Bidang KSDA Wilayah III BBKSDA Jawa Barat Didin Syarifudin mengatakan, pihaknya masih berkoordinasi dengan pimpinan terkait rencana pelepasliaran.

Dia mengaku masih menunggu hasil pemeriksaan kesehatan kukang oleh Yayasan IAR Indonesia. Jika ada beberapa kukang yang dinyatakan sehat maka akan dilepasliarkan.

“Untuk lokasi pelepasliaran kami menunggu arahan dari pimpinan,” katanya

Menurutnya, penangkapan tersebut menjadi momentum bersama untuk lebih peduli terhadap kukang dan satwa liar lainnya. Ia pun mengimbau kepada masyarakat untuk tidak ikut memburu, memelihara maupun jual beli satwa liar secara ilegal.

“Kami terbuka bagi masyarakat yang akan mengembalikan satwa liar apapun untuk kami tindaklanjuti dan tolong segera melapor,” ujarnya. (Fanny)