NYAMUK Aedes aegypti/PRLM

BEKASI, (KC Online).-

Wabah DBD (demam berdarah dengue) diperkirakan akan terus menjangkiti masyarakat hingga Maret 2019.

Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi, sebagai salah satu rumah sakit rujukan, terus bersiap mengantisipasi kemungkinan terjadinya lonjakan kedatangan pasien DBD.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Kota Bekasi Dezi Syukrawati menyebut, perkiraan tersebut didasarkannya pada kondisi musim hujan yang baru memasuki tahap permulaan.

“Karena musim hujan baru mulai dan beberapa bulan ke depan masih akan sering turun hujan, ancaman wabah DBD pun diperkirakan masih akan terjadi,” kata Dezi, Selasa 29 Januari 2019.

Hingga Senin 28 Januari 2019, peningkatan kasus DBD di Kota Bekasi cukup tinggi. Setidaknya, tercatat 75 pasien yang dinyatakan positif terjangkit DBD.

Saat data tersebut disandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, angkanya mengalami peningkatan hampir dua kali lipat. Terjadi 49 kasus positif DBD pada Januari 2018.

Sementara pada tahun 2017, angkanya menyentuh 89 kasus positif DBD dan 196 kasus positif DBD tercatat pada tahun 2016.

“Untuk tahun 2017 dan 2018, sama-sama ada dua pasien DBD yang meninggal. Adapun pada tahun 2019, hingga saat ini tidak ada pasien DBD yang meninggal,” katanya.

PASIEN demam berdarah dengue di Rumah Sakit Umum Daerah dr. Chasbullah Kota Bekasi/RIESTY YUSNILANINGSIH/PRLM

Mengingat masih panjangnya kemungkinan wabah DBD menjangkiti masyarakat, Dinkes Kota Bekasi terus menggencarkan terlaksananya pola hidup bersih serta pemberantasan sarang nyamuk di lingkungan masyarakat. Sikap itu harus dilakukan bersamaan agar secara serentak jentik-jentik nyamuk bisa dimatikan.

“Kami terus mendorong agar ada satu juru pemantau jentik di setiap rumah yang bertugas memastikan tidak ada genangan air bersih yang bisa dijadikan tempat berkembangbiaknya nyamuk,” katanya.

Bila lingkungan sudah dibersihkan serentak, baru upaya pencegahan tambahan bisa dilakukan dengan pengasapan.

“Jadi, bukan pengasapan yang didahulukan, lingkungannya dulu dibersihkan, baru ditambah pengasapan. Jika pengasapan dilakukan bukan pada saat tepat, metodenya salah. Penggunaan obat yang keliru juga tidak akan berdampak,” kata Dezi.

Rumah sakit bersiap

Sementara itu, dalam rangka mengantisipasi kemungkinan lonjakan pasien karena tren wabah DBD yang masih akan berlanjut hingga Maret 2019, RSUD dr. Chasbullah telah mempersiapkan serangkaian antisipasi.

“Salah satunya adalah penambahan tempat tidur, dari semula hanya 450 unit, bisa kami siapkan sampai 700 unit. Obat-obatan penanganan DBD pun kami siapkan agar mencukupi jumlahnya bilamana tren kasus DBD masih meningkat,” kata Direktur RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Kusnanto Saidi.

Kepala Bidang Perawatan RSUD dr. Chasbullah Kota Bekasi Sudirman mengatakan, sepanjang Januari 2019, ada 95 pasien yang dirawat karena mengeluhkan gejala seperti terjangkit DBD seperti demam tiga hari berturut-turut, lemah, lesu, tulang terasa ngilu. Akan tetapi, setelah ditangani lebih lanjut, hanya 31 di antaranya yang dinyatakan positif DBD.

“Sisanya ada yang hanya demam dengue atau tipes karena gejalanya hampir mirip,” ucapnya.

Hingga saat ini, pasien yang positif DBD bisa tertangani baik dan tidak ada yang meninggal karena datang sebelum kondisinya parah. KC Online/PRLM