Ilustrasi.*/DOK PR

BOGOR, (KC Online).-

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menargetkan pertanian di Indonesia bisa bertranformasi dari pertanian tradisional menjadi pertanian modern. Andi pun berharap seluruh universitas terutama kampus pertanian dapat berkontribusi menciptakan teknologi ramah petani.

Demikian diungkapkan Andi Amran Sulaiman saat menjadi pembicara utama dalam seminar bertajuk “Ketahanan Pangan untuk Kedaulatan Bangsa” di Auditorium Andi Hakim Nasution, Institut Pertanian Bogor, Kamis, 24 Januari 2019.

“Empat tahun pemerintahan kita, masa depan pertanian cukup menggembirakan, itu enggak lepas dari teman-teman perguruan tinggi. Kita kerjasama semua, termasuk IPB yang sudah mendukung teknologi baru. Kita optimistis 2045 Indonesia bisa jadi lumbung pangan dunia,” ujar Andi.

Menurut Andi, masa depan pertanian di Indonesia empat tahun belakangan mengalami peningkatan. Hal tersebut tercermin dari lompatan inflasi pangan, dari sebelumnya 10,65 persen menjadi 1,2 persen.

“Kita sudah melompati 12 negara, Jerman kita lompati, China kita lompati. PDB kita juga dari Rp 900 trilliun, naik menjadi Rp 1400 triliun, ini lompatan luar biasa, dan sudah divalidasi oleh BPS,” kata Andi.

Melalui adaptasi teknologi, Andi berharap para generasi milenial tidak meninggalkan dunia pertanian. Andi mendambakan, suatu saat para lulusan sarjana pertanian dapat bekerja sebagai petani sukses yang tidak harus bekerja di sawah, namun bisa bekerja melalui rumah atau kampus.

“Mimpi kami, para sarjana-sarjana ini bisa berkebun di rumah. Kami sudah buat traktor yang canggih, ke depan mudah-mudahan bisa dikontrol dari kampus, kami sudah pnya 1.128 traktor, semoga nanti bisa bersawah dengan mudah,” ujar Andi.

Pemerintah, kata Andi, saat ini juga sudah bertranformasi dengan berupaya meningkatkan ekspor pertanian dan menekan disparitas harga. Salah satu yang dilakukan yakni dengan memberantas mafia pertanian yang menyebabkan petani tidak menikmati hasil pertaniannya.

Andi menjabarkan, selama 4 tahun, ada 409 tersangka mafia yang ditindak oleh satgas pangan. Pemerintah juga telah melakukan deregulasi perizinan, sehingga skema perizinan semakin mudah.

“Kami tegaskan, tidak ada mafia di antara kita. 291 permentan juga dicabut, kita bentuk tim percepatan investasi, perizinan cepat, dari tiga bulan, menjadi tiga jam, dampaknya ekspor kita meningkat. Ada 460 komoditas yang harus kita jaga siang dan malam, bukan hanya beras,” kata Andi.

Andi memaklumi, saat ini semakin sedikit generasi milenial yang mau berkecimpung di dunia pertanian. Namun, dengan perkembangan pertanian yang ada, Andi berharap generasi muda terutama sarjana pertanian bisa fokus terjun ke dunia pertanian.

“Jangan salah ya, 10 orang sukses di Indonesia, 8 di antaranya dari pertanian. Jadi petani sukses itu menjanjikan,” ucap Andi.

Kurikulum baru

Rektor Institut Pertanian Bogor Arif Satria menyatakan, masa depan pertanian Indonesia masih memiliki harapan. Pasalnya, masih ada generasi muda yang mau berkecimpung di dunia pertanian, walaupun jumlahnya semakin minim.

“Di Indonesia, petani tergolong masih muda, di atas 48 tahun, di Jepang saja di atas 68 tahun. Tetapi dalam 10 tahun ke depan, jumlah petani di Indonesia akan drop, mereka enggak mau jadi buruh tani. Maka dari itu, petani harus diisi dengan orang-orang terdidik,” kata Arif.

Lebih lanjut, Arif mengatakan, IPB berupaya untuk menciptakan teknologi pertanian pintar. Dalam menyongsong petani melek digitalisasi, IPB juga telah menyiapkan kurikulum yang disesuaikan dengan digitalisasi pertanian.

“Kita sudah siapkan teknologi pertanian yang adaptif, mimpi IPB, 2030 nanti, pelaku petani harus melek teknologi, karakteristik petani modern akan disiapkan dalam kurikulum itu,” ujar Arif. KC Online/PRLM