PPTK Muskala Disbudpar Kab.Indramayu, Suparto Agus Tinus ketika memperlihatkan jenis keris yang dipegangnya di lokasi pameran, Sabtu (5/1/2019). Ratno/KC Online

INDRAMAYU, (KC Online).-

PPTK Muskala Disbudpar Kab. Indramayu, Suparto Agus Tinus mengatakan, pameran benda-benda pusaka berbagai jenis yang diprakasai Paguyuban Penggiat Benda Pusaka Astadharma merupakan tonggak cikal bakal untuk kegiatan-kegiatan yang lebih terarah, karena sebelumnya kegiatan pameran benda pusaka semacam ini pernah dilakukan dalam rangkaian HUT ke-491 Indramayu tahun 2018 kemarin.

Pameran ini salah satu bentuk keinginan pengurus paguyuban sebagai awal pergerakannya untuk mengenalkan lebih dekat kepada masyarakat luas tentang benda-benda pusaka. “Benda-benda pusaka yang dipamerkan lebih mengedepankan nilai-nilai edukasi dan filosofi,” kata Tinus ketika ditemui KC Online di lokasi pameran, Sabtu (5/1/2019) kemarin.

Dalam UU No 11 tahun 2010 tentang Cagar Budaya, sambung dia, manakala benda-benda pusaka yang usianya di atas 50 tahun maka masuk kategori cagar budaya. Karenanya, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kab.Indramayu sebagai fasilitator dan mediator mengajak kepada para paguyuban penggiat benda-benda pusaka agar bisa bersinergi dengan pihak Museum dan Purbakala (Muskala) Disbudpar Kab. Indramayu.

Dengan demikian, ke depan pihaknya dapat memfasilitasi para paguyuban penggiat benda-benda pusaka di Kab.Indramayu. Kegiatan pameran secama ini, diharapkan bukan hanya sekadar serimonial belaka tetapi diupayakan dapat berjalan secara berkesinambungan dan Bidang Muskala juga dapat mengalokasikan anggaran untuk kegiatan semacam ini.

“Melalui pameran ini, para generasi akan peka terhadap nilai-nilai sejarah dan budaya yang pernah ada di Bumi Wiralodra Indramayu,” terangnya.

Menurut dia, mengingat Pemda Indramayu belum memiliki gedung museum penyimpanan benda-benda pusaka maka salah satu tugas Kasi Muskala Disbudpar memelihara benda-benda pusaka, hal itu dimaksudkan agar benda-benda pusaka dapat terpelihara dan terawat dengan baik.

Benda pusaka yang dipamerkan kali ini sekitar 50 bilah terdiri dari keris, tombak, badik, pedang dan golok yang merupakan milik pribadi atau individual yang tergabung didalam paguyuban Astadharma atau milik pribadi para pelaku yang mencintai benda-benda pusaka.

Dengan kata lain, melalui pameran ini masyarakat dapat mengetahui bila benda-benda pusaka bukan saja dimitoskan tetapi dapat diteliti dan diketahui secara keilmuan. Sehingga diupayakan masyarakat mampu melestarikan benda-benda pusaka secara baik dan benar, karena selama ini masyarakat terkesan belum begitu mengenal cara memelihara benda-benda pusaka.

“Dengan digelarnya pameran ini, diharapkan masyarakat selain dapat mengenal benda-benda pusaka juga mampu memeliharanya dengan baik,” imbaunya.(Ratno/KC Online)