PLANG peringatan terpasang di kawasan operasional PT Star Energy Geothermal, Darajat, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut, Jumat 25 Januari 2019. Masyarakat sekitar khawatir penebangan pohon di wilayah operasional PT Star Energy Geothermal yang dilakukan sepanjang 2018 akan memicu bencana alam.*/RANI UMMI FADILA/PR

 

JAKARTA, (KC Online).-

Ketua DPR Bambang Soesatyo meminta Komisi VII DPR mendorong Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) untuk menjelaskan penurunan ­status kawasan cagar alam menjadi taman wisata alam. Penjelasan itu penting mengingat cagar alam merupakan suatu kawasan suaka alam.

Menurut dia, kawasan seperti itu memiliki kekhasan tumbuhan, satwa, dan ekosistem tertentu yang perlu dilindungi dan perkembangannya berlangsung secara alami.

Selain itu, Bambang mendorong Kepala Daerah Provinsi Jawa Barat berkoordinasi dengan KLHK untuk mengkaji kembali SK 25/MENLHK/SETJEN/-PLA.2/1/­2018 tersebut.

”Ini untuk menghindari po­lemik antarlembaga yang ada, utamanya untuk kegiatan pelestarian lingkungan,” kata­nya, Jumat 25 Januari 2019.

Ia juga mengimbau masyarakat sekitar kawasan cagar alam agar turut menjaga kawasan tersebut. ”Serta dapat menjadi dasar penguatan status wilayah cagar alam yang ada,” katanya.

Khawatir

Masyarakat di Kecamatan Darajat kha­watir terhadap dampak penebangan pohon di kawasan yang masuk dalam wilayah ope­rasional PT Star Energy Geothermal, per­usahaan penghasil panas bumi.

Banyaknya lahan gundul di Darajat sempat disebut menjadi penyebab terjadinya banjir bandang di kawasan perkotaan Garut pada 2016.

Seorang warga Desa Padaawas, Wawan Hermawan, mengatakan bahwa pene­bangan pohon terjadi se­panjang tahun 2018. Lokasi penebangan pohon berada di titik S4 kawasan PT Star Energy Geothermal.

Pohon yang ditebang menggunakan alat berat tersebut kemudian diangkut dengan belasan truk.

KAWASAN hutan lindung atau produktif kini ba­nyak yang beralih fungsi menjadi lahan pertani­an. Secara tidak langsung, hal ini bisa mem­bahayakan dan mendatangkan bencana. Kini masyarakat diajak untuk menjaga dan meles­tari­kan hutan dengan gerakan penghijauan. Hutan yang gundul, kini ditanami kembali dengan aneka pohon.*/ERIYANTI NURMALA DEWI/PR

Masyarakat desa sudah pernah berunjuk rasa ke PT Star Energy Geothermal. Masyara­kat pun sempat mempertanyakan, apakah penebangan pohon itu mendapat izin dari pihak berwenang.

Wawan pun ingin mempertanyakan, apakah penebangan pohon tersebut dalam rangka pengembangan panas bumi oleh PT Star Energy Geothermal. Namun, sejauh ini ia tak mendapat jawaban dari pihak PT Star Energy Geo­thermal dan penebangan pohon pun tetap terjadi.

Warga khawatir penebangan pohon akan berdampak terhadap berkurangnya resapan air hujan dan pada akhirnya dapat kembali menyebabkan banjir bandang di perkotaan Kabupaten Garut.

PEMANDANGAN kawasan Puncak Darajat dan Kawah Darajat di Desa Padaawas, Kecamatan Pasirwangi, Kabupaten Garut. Kawah Darajat punya sejumlah kawah yang masih aktif de­ngan adanya letupan-letupan kecil disertai semburan air panas yang keluar dari mulut kawah.*/RATNA AYU BUDHIARTI

Masyarakat Garut pernah mengalami peristiwa menakutkan lantaran amukan Sungai Cimanuk pada 2016. Salah satu penyebabnya diduga karena kondisi lahan di Darajat yang gundul.

”Nanti kalau sudah terjadi dampak, mereka tinggal pulang ke wilayah masing-masing. Kami warga di sini yang merasa­kan dampaknya,” kata Wawan di Desa Padaawas, Jumat (25/1/2019).

Selain khawatir banjir, warga juga khawatir mata air di lahan yang pohonnya ditebang rusak. ”Ada sumber mata air. Gimana anak cucu kami ke depan kalau mata air hilang?” ucapnya.

Berkoordinasi

Manajer Policy, Government, and Public Affairs PT Star Energy Geothermal Iwan Azof menga­takan, penebangan pohon yang dilakukan di titik S4 bukan untuk pembuatan sumur bor baru. Hal itu dilakukan da­lam rangka membersihkan area di sekitar sumur yang lama.

Lokasi penebangan yang dimaksud berada di hutan lindung. ”Sesuai dengan ketentuan, penebangan pohon atas koordinasi dengan Perhutani dan BKSDA (Balai Konservasi Sumber Daya Alam),” ujar Iwan.

PT Star Energy saat ini tidak memiliki rencana membuat sumur baru, seperti dugaan masyarakat Desa Padaawas.

PT Star Energy pun belum berencana menambah kapasitas panas bumi meskipun ada perubahan status Cagar Alam Papandayan menjadi taman wisata alam. Diakui Iwan, wilayah kerja PT Star Energy Geothermal memang ada yang terletak di kawasan cagar alam.

PT Star Energy Geothermal pun tidak bisa memperluas area operasi tanpa ada pembaruan izin dari Kementerian Ling­kung­an Hidup dan Kehutanan.

”Jadi, meskipun ada perubahan sta­tus ke taman wisata alam, ka­mi tidak bisa memperluas area. Sudah ada batasan, harus sesuai kontrak,” ujar­nya.

Dia menambahkan, sejak ­awal beroperasi, PT Star Energy tidak pernah me­nambah kapasitas panas bumi atau menambah sumur baru. Kondisi saat ini masih sama seperti sebelum kawasan tersebut ditetapkan sebagai taman wisata alam. (Muhammad Ashari, Rani Ummi Fadila) KC Online/PRLM