TAK banyak manajemen tempat hiburan malam yang menggelar kegiatan pengajian bulanan, mungkin hanya segelintir.

Wahaha Hotel & Entertainment merupakan salah satu tempat hiburan di Wilayah Cirebon yang melakukan terobosan dengan mengadakan pengajian rutin setiap bulannya.

Adalah Jovfanri Prasetya, General Manager Wahaha, yang menggandeng Ustadz Mawi (Cirebon) bersama Ustadz H. Herman dari Sukabumi, berkolaborasi melahirkan terobosan tersebut.

“Kami ingin membuktikan ada nuansa Islami di Wahaha. Kita gelar pengajian rutin bulanan. Kami juga punya musala yang sangat nyaman. Banyak tamu atau konsumen yang salat di musala kami,” tandas Jovan, sapaan akrabnya, saat ditemui Kabar Cirebon, Jumat (11/1/2019), sebelum acara pengajian rutin.

Didampingi Ustadz Mawi dan Ustadz Herman, Jovan memastikan baru Wahaha yang punya kegiatan tersebut di Wilayah Cirebon. Pengajian rutin pun akan disosialisasikan juga ke pengelola tempat hiburan lainnya di Cirebon.

“Pengajian rutin sudah diawali sejak 2018 lalu, empat kali sampai dengan sekarang. Dalam setiap kesempatan, kami juga mengundang pengelola tempat hiburan yang ada di Cirebon untuk ikut serta. Harapannya, kegiatan ini bisa digelar juga di tempat mereka masing-masing,” kata pria yang juga seorang DJ ini.

Ustad Mawi menambahkan, dirinya meyakinkan manajemen Wahaha bahwa pengajian rutin di tempat hiburan harus dilakukan. Meski terdengar aneh bagi sejumlah orang, karyawan Wahaha juga berhak mendapat ilmu agama.

“Saya kenal Jovan sejak masih remaja, lewat ayahnya, Pak Yogi. Dulu saya ini aktif di pergerakan, sering demo tempat hiburan malam bersama temen-teman ormas Islam di Cirebon. Pergerakan kami tentu tegas dan keras. Saya kemudian terpikir, pergerakan itu tidak harus dengan cara keras. Cara santun terasa lebih indah. Dari situ saya mengajak Jovan untuk menggelar acara pengajian di Wahaha,” ungkapnya.

Dirinya berpendapat, memberikan pemahaman tentang ajaran agama Islam akan lebih mengena dengan cara menyentuh hati, bukan dengan cara-cara kekerasan.

“Saya lalu menggandeng Ustadz Herman untuk memberikan siraman rohani, karena beliau punya metode dan lebih berpengalaman berbagi ilmu agama Islam di tempat hiburan,” lanjut Ustadz Mawi.

Amalkan ilmu

Ustadz Herman menambahkan, dirinya hadir dalam pengajian di tempat hiburan karena keterpanggilan jiwa. Baginya, orang-orang yang ada di tempat hiburan malam harus diberi pencerahan.

“Kita datang dengan kelembutan, karena Allah SWT. Orang yang berilmu dan berakhlak yang tidak mau mengamalkan, sama dengan iblis. Maka, sekecil apapun ilmu kita wajib dibagikan ke orang lain,” terangnya, dalam isi ceramahnya di hadapan para karyawan Wahaha.

Ia menyampaikan, dosa yang termasuk tidak diampuni adalah manusia bodoh. Ketika ilmu dari Allah SWT datang, maka manusia akan tahu mana yang benar dan salah.

“Cahaya ilmu datang, kegelapan akan kita tinggalkan. Ilmu yang didapat, ladang amal bagi kita. Ilmu yang tidak diamalkan juga bisa membuat kita menjadi sombong,” papar dia.

Ustadz Herman mengapresiasi keberadaan musala di Wahaha, bahkan dinilainya cukup nyaman karena bersih dan ber-AC. Dirinya berharap para karyawan Wahaha rutin melakukan salat berjamaah, termasuk bersama para tamu yang datang.

“Dengan salat berjamaah, pahala yang kita dapatkan berlimpah. Salat membebaskan kita dari siksa kubur, masuk surga tanpa dihisab, dimudahkan segala kesulitan dalam hidup, dilapangankan rejeki dan banyak lagi manfaatnya. Amalkan nilai-nilai salat dalam kehidupan sehari-hari,” ajak Ustadz Herman.

Usai siraman rohani dari Ustadz Herman, manajemen dan karyawan Wahaha memberikan bantuan makanan maupun santunan uang kepada para santri dari Pondok Pesantren Al Hijrah (Kedawung, Kabupaten Cirebon), yang hadir dalam kesempatan tersebut.(Noli)