KUKANG Jawa.*/Ist

SUMBER, (KC Online).-

Populasi Kukang Jawa (Nycticebus Javanicus) terus mengalami penurunan hingga 80 persen selama 24 tahun terakhir. Penurunan tersebut akibat menyempitnya habitat tempat hidup dan perburuan liar.

Inilah yang membuat Kukang Jawa termasuk dalam kategori satwa yang dilindungi. Kini status Kukang Jawa masuk dinyatakan critically endangered. Karena itu, perlindungan terhadap hewan ini menjadi kewajiban seluruh pemerintah melalui pihak yang diberi kewenangan serta masyarakat umum.

“Jumlah populasi terus turun. Kini belum diketahui secara pasti karena survei terhadap Kukang jarang sekali. Hewan ini menjadi incaran karena bentuknya lucu dan menggemaskan,” tutur Dokter Hewan Yayasan International Animal Rescue (IAR) Indonesia Wendi Prameswari, belum lama ini.

Wendi berujar, hewan nocturnal ini sangat digemari oleh masyarakat penggemar satwa liar yang ingin memeliharanya di rumah-rumah. Kegemaran tersebut mengancam menurunnya populasi hewan ini.

KUKANG Jawa./ PRLM

Hewan ini juga terbebani kepercayaan irasional masyarakat, terutama di wilayah perdesaan. Kukang sering dihubungkan dengan tindakan mistis, seperti syarat untuk bahan minyak pellet atau bahan pengobatan tradisional lainnya.

Penyelundupan kukang

Untuk diketahui, Kepolisian Resort (Polres) Majalengka berhasil menggagalkan rencana penyelundupan puluhan ekor Kukang Jawa yang ditangkap dari areal hutan di sekitar Gunung Ciremai.

Rencana penyelundupan ini merupakan kasus terbesar di Jawa Barat, dengan jumlah mencapai 79 ekor hewan yang populasinya dilindungi oleh Undang Undang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem.

Dari 79 ekor tadi, setelah diamankan di Balai Konservasi Sumber Daa Alam (BKSDA) Jawa Barat Wilayah VI di Cirebon, tiga diantaranya mati. Kukang yang mati karena saat digerebek di tempat penampungan di Majalengka, sudah dalam keadaan sakit.

“Tiga ekor yang mati karena dehidrasi, malnutrisi, stress dan kelaparan. Kini kami konsentrasi untuk menyeamatkan 76 ekor lainnya,” ujar Wendi.

Polres Majalengka mengamankan dua pelaku yang diduga sebagai pemburu liar sekaligus penampung satwa liar tersebut di di Dusun Citayeum, Desa Cibodas, Kecamatan/Kabupaten Majalengka. Kedua pelaku dijerat Pasal 40 ayat (2) Jo Pasal 21 ayat (1) ke 1 dari UU RI No 5 tahun 1990 tentang konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem Jo peraturan pemerintah RI No 7 tahun 1999 tentang jenis-jenis tumbuhan dan satwa yang dilindungi.

“Kukang ini rencananya mau diperjualbelikan secara ilegal ke berbagai tempat di luar Majalengka,” ucap dia.

Dijelaskan, BKSDA menerima penyerahan Kukang Jawa dari Polres Majalengka pada Rabu 9 Januari 2019 lalu. Sebagian besar kondisi kesehatannya kurang baik sehingga langsung ditangani, sedang tiga ekor diantaranya karena sudah parah, kemudian mati.

Untuk yang 76 ekor lainnya, kini sudah berangsur membaik dan dalam keadaan sehat. BKSDA telah memeriksa kondisi kesehatan Kukang, termasuk kondisi gigi yang masih lengkap, memberi makanan sehat, peningkatan gizi, memberi obat cacing, obat kutu, vitamin dan suplemen pakan.

Penyelamatan terbesar

Dari catatan yang ada, ini penyelamatan terbesar di wilayah Jabar. Tahun 2016 pernah ada penyelamatan sebanyak 34 ekor Kukang Jawa, sedang untuk Indonesia ini kasus terbesar nomor dua setelah sebelumnya ada penyelundupan 238 ekor tahun 2013 di Sumatera.

“Ini prestasi terbesar di Jabar. Mudah-mudahan bisa menyadarkan masyarakat akan pentingnya melindungi satwa yang dilindungi UU. Kami terus memantau perkembangan kesehatan. Bila sudah memungkinkan, satwa ini siap kembali dilepas di habitat liarnya,” ucapnya.

KUKANG Jawa. Ist (PRLM)

Kepala seksi Konservasi Wilayah VI Bidang KSDA Wilayah III BBKSDA Jawa Barat, Didin Syarifudin, mengemukakan pihaknya siap berkoordinasi dengan otoritas lain untuk melepas hewan ini setelah dinyatakan sehat. Pihaknya kini tengah berkoordinasi dengan balai konservasi di Bandung untuk menentukan tempat aman sebagai habitat Kukang Jawa ini.

“Dimana lokasi pelepasannya, kami masih berkoordinasi. Inginnya ke habitat yang baik dan terlindungi dari para pemburu liar,” kata Didin. KC Online/PRLM