TINGGINYA curah hujan dan banjir akibat luapan sungai membuat ribuan hektare sawah di Kabupaten Cirebon terancam gagal tanam.* Ismail/KC Online

CIREBON, (KC Online).-

Tingginya curah hujan dan banjir akibat luapan sungai membuat ribuan hektare sawah di Kabupaten Cirebon terancam gagal tanam. Petani terancam mengalami kerugian mencapai ratusan juta rupiah. Oleh sebab itu, petani meminta pemerintah kabupaten (pemkab) setempat turun tangan untuk mengatasinya.

Seperti diketahui, akhir-akhir ini areal sawah di kecamatan sentra pertanian yang berbatasan dengan Kabupaten Indramayu dan sekitarnya, terendam air setinggi 25 sampai 30 centimeter. Jika air tidak juga surut, tanaman padi di areal sawah itu dipastikan bakal mati.

Dari Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon diperoleh data, genangan air merendam areal pertanian di wilayah  Kecamatan Kapetakan, Suranenggala, Panguragan, Tengahtani, Jamblang, Susukan dan Gegesik.  Terparah di Panguragan menyusul jebolnya tanggul Sungai Winong yang tidak saja merendam areal pertanian, tetapi juga ratusan rumah penduduk.

“Kami masih mendata luas genangan air yang merendam areal sawah. Kami berkoordinasi dengan kelompok tani untuk informasi sawah yang tanaman padinya mati,” tutur Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon, H Ali Effendi, belum lama ini.

Selain mendata, pihaknya juga mengusahakan penggantian untuk tanaman padi yang mati. Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon akan mengajukan klaim kepada pihak asuransi pertanian.

Peserta asuransi

“Dari data yang ada, rata-rata petani yang sawahnya tergenang dan terancam gagal tanam itu tercatat sebagai peserta asuransi. Kita akan mengajukan klaim bila memang ada yang gagal tanam,” ujar Ali.

Menurutnya, petani tidak perlu kawatir soal kerugian karena asuransi akan menggantinya. Meski begitu, diharapkan tanaman padi yang terendam masih bisa diselamatkan.

“Kita juga akan mengajukan ke pemerintah perlunya dibuat embung di sentra-sentra pertanian. Hal ini supaya jika curah hujan tinggi, ada embung penampung air sehingga tidak perlu ada sawah yang tergenang,” harap Ali.

Salah seorang petani di Kecamatan Panguragan, Rohendi (43 tahun) mengaku, jika dalam lima hari tanaman padi terus direndam air, dipastikan akan membusuk dan mati. Artinya, para petani harus menanam ulang.

“Rata-rata petani kawatir tidak bisa menyelamatkan tanaman padi yang sudah terendam selama lima hari belakangan ini. Apalagi hujan masih sering turun,” katanya.

Salah seorang petani di Kecamatan Gegesik, Ahmad (52 tahun) mengaku, areal sawah di wilayahnya yang tergenang air ketinggiannya berubah-ubah setiap saat. Jika tidak hujan, genangan air pun turun. “Tetapi ketika hujan turun, kembali naik merendam tanaman,” ujar Ahmad.

Menurut dia, rata-rata ketinggian tanaman padi tidak lebih dari 25 centimeter. Para petani di sentra pertanian tersebut, baru menanam pada bulan Desember 2018 lalu, usia padi rata-rata tiga sampai empat minggu.(C-15)