CIREBON,(KC Online).-

Setelah seniman tarling asal Palimanan, Sunarto atau biasa dipanggil Kang Ato meninggal dunia pada awal Januari lalu, kini grup tarling di Kabupaten Cirebon tinggal 15. Kang Ato merupakan seniman tarling klasik.

Sementara, ada puluhan grup tarling lainnya di luar 15 grup tersebut. Namun puluhan grup tersebut merupakan tarling dangdut.

“Yang tersisa saat ini memang 15 grup tarling klasik, sementara tarling dangdut ada lebih dari itu,” ujar Kasie Kesenian pada Disbudparpora Kabupaten Cirebon, Momon Saptaji, Senin (21/1/2019).

Menurutnya, sulit untuk bertahan terus dari tarling Klasik, sebab biasanya jika sedang manggung banyak penonton yang meminta para pemain tarling untuk membawakan lagu dangdut juga.

“Makanya kenapa tarling dangdut banyak, itu karena memang banyak penonton yang minta tarling dikombinasikan dengan dangdut, maka ada segmen tarling dangdut, contohnya Diana Sastra,” ungkapnya.

Menurutnya, tarling idealnya merupakan campuran gitar dan suling, namun dalam perkembangannya banyak alat musik yang turut disertakan.

“Misalnya dipadukan dengan gamelan atau gong, dan sebagainya,” ungkapnya.

Meski demikian, menurutnya, kesenian tarling masih jauh dari kepunahan.

“Sebab biasanya keluarga para seniman ada yang meneruskan. Contohnya ada anak dari Kang Ato yang juga bisa bermain tarling, sehingga grupnya tidak akan bubar,” tuturnya.

Menurutnya, Pemerintah Kabupaten Cirebon juga melakukan berbagai upaya agar seni tarling klasik jangan sampai punah.

“Biasanya tiap 17 Agustus ada panggung khusus seniman tarling. Kita gilir tiap tahunnya grup tarling yang akan tampil supaya tidak ada kecemburuan satu sama lain,” ujarnya. (Fanny)