CIREBON,(KC Online).-

Pemerintah Kabupaten Cirebon menilai sentra gerabah di Desa Sitiwinangun, Kecamatan Jamblang, berpotensi tinggi menjadi lokasi pariwisata yang diandalkan.

Menurut Penjabat Bupati Cirebon Dicky Saromi, sentra gerabah ini akan dimasukkan ke dalam rencana kerja pada 2020, sehingga bisa terencana dengan baik. Ia pun menilai, sentra gerabah ini merupakan produk original Cirebon lainnya setelah produk kuliner yang bisa menarik hati para wisatawan.

“Nanti ada wisata satu paket, di mana wisata gerabah ini harus masuk ke dalam paket tersebut,” ujar Dicky usai mengunjungi sentra gerabah di Desa Sitiwinangun, Senin (14/1/2019).

Dicky menambahkan, wisata gerabah merupakan potensi original yang ‘bisa dijual’.

“Bayangkan, banyak sekali potensi wisata di Kabupaten Cirebon yang original, yang di daerah lain belum tentu ada. Di sini itu ada wisata gerabah, ada kuliner Jamblang dan sebagainya,” ujarnya.

Ia juga menambahkan, jika di masa lalu potensi pendapatan negara ada pada sektor minyak dan gas, maka sekarang sektor andalan pendapatan adalah pariwisata.

“Kenapa wisatawan yang datang ke sini senang? Sebab untuk datang ke Cirebon itu penuh kepastian dari segi waktu, ada kereta yang jamnya sudah pasti, ada juga pesawat dari BIJB yang jamnya juga sudah pasti,” ungkapnya.

Sementara itu, Kuwu Desa Sitiwinangun Ratija Brata Menggala mengatakan, gerabah dari Desa Sitiwinangun lebih tahan terhadap cuaca.

“Karena dibuat dari bahan campuran pasir dan tanah lempung, sehingga lebih tahan cuaca,” ujar Ratija.

Menurutnya, dari segi ragam ukir pun gerabah Sitiwinangun sangat khas lokal, di antaranya khas Mega mendung.

“Bentuknya juga sangat khas yang tidak bisa didapati dari gerabah lainnya. Cara membuatnya juga beda, yaitu dengan cara pembakaran di tempat terbuka yang hanya butuh waktu 45 menit dan pembakaran di dalam yang butuh waktu 4-5 jam,” ujarnya.

Ia juga menuturkan, kini setelah bekerjasama dengan pihak Keraton Kasepuhan, mulai banyak pihak, terutama pelajar, yang berdatangan ke Desa Sitiwinangun untuk mempelajari pembuatan gerabah.

“Dari TK, SD, hingga ada dari pihak ITB juga pernah datang. Lebih jauh, kita berharap ada tourism effect dari BIJB ke sentra gerabah di desa ini,” ujarnya. (Fanny)