DOSEN ITB Mardiyati menunjukkan filamen pencetakan 3D yang berbahan limbah botol plastik temuannya.*/HUMAS ITB (PRLM)

BANDUNG, (KC Online).-

Dosen Institut Teknologi Bandung (ITB) Mardiyati berhasil membuat filamen printer 3D dari limbah botol plastik bekas. Temuan ini telah memiliki hak paten.

Penelitian Mardiyati yang berjudul Preparation of 3D Printing Filament Made From Thermoplastic Waste ini dikerjakan di di Green Polymer Lab, Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara ITB. Filamen pencetakan 3D merupakan bahan yang digunakan untuk pemodelan 3D.

Pemanfaatan dan permintaan filamen cetak 3D saat ini terus meningkat. Namun filamen printer 3D komersial yang tersedia di pasaran, harga bahannya mahal dan harus impor.

Mardiyati bermaksud mencari bahan lain sebagai bahan filamen yang lebih mudah ditemukan, yaitu menggunakan termoplastik dari sampah botol air mineral. Termoplastik adalah bahan yang dapat didaur ulang dan dimanfaatkan kembali menjadi suatu produk baru dengan melalui suatu proses pemanasan.

“Oleh karena itu penelitian ini berfokus pada pengembangan dan pemanfaatan termoplastik sebagai bahan baku untuk filamen cetak 3D,” kata Mardiyati melalui siaran pers ITB, Kamis 16 Januari 2019.

Penelitian yang dimulai pada 2016 ini akhirnya selesai pada 2018. Penelitian ini berhasil mengembangkan filamen 3D printing dari sampah tutup botol yang berbahan dasar Polipropilena dan botol air mineral yang berbahan dasar PET.

“Filamen jenis ABS (Acrylonitrile butadiene styrene) dan PLA (polylactic acid atau polylactide) sangat mahal dan tinggi di pasaran. Berangkat dari hal tersebut, tercetuslah ide pembuatan filamen dari sampah plastik menjadi produk. Kenapa kita tidak mencoba membuat filamen sendiri dari sampah plastik untuk bahan 3D printing,” tuturnya.

Rahasia pembuatan filamen printer 3D

Limbah tutup botol dicacah menjadi potongan kecil. Setelah itu dimasukan ke dalam mesin ekstrusi hingga keluarannya berbentuk seperti gulungan benang. Filamen inilah yang nantinya akan menjadi bahan untuk pembuatan model 3D printing.

Mesin 3D printing yang digunakan merupakan jenis yang sudah tersedia di pasaran dan dimodifikasi ulang sehingga dapat menggunakan filamen jenis termoplastic. Penelitian ini tak hanya mengembangkan bahan filamen dari tutupnya saja, tetapi juga botol plastiknya.

“Perbedaan antara bahan filamen dari tutup botol dan botol plastiknya adalah dari sisi proses ektrusinya. Kalau yang dari tutup botol melelehkannya cukup 180 derajat saja, namun untuk bodi plastik itu perlu suhu 240 derajat dan ada campuran khusus,” lanjutnya.

Hasil penelitian ini kini telah memiliki hak paten. Mardiyati berharap, temuan ini juga bisa menjadi solusi atas persoalan sampah, utamanya sampah plastik. KC Online/PRLM