KAPOLRES Majalengka Ajun Komisaris Besar Polisi Mariyono memperlihatkan barang bukti kasus Fedofilia dengan tersangka AS (56 tahun) warga Desa Rajagaluh Lor, Kecamatan Rajagaluh, Rabu (2/1/2019). Tati/KC Online

MAJALENGKA, (KC Online).-

Tersangka pedopilia AS (56 tahun), warga Desa Rajagaluh Lor, Kecamatan Rajagaluh, Kabupaten Majalengka diamankan Kepolisian Resor Majalengka atas tuduhan pencabulan terhadap anak dibawah umur Mawar (5 tahun) dan Melati (6 tahun) nama samaran yang kini duduk di bangku Sekolah Taman Kanak-kanak di Kecamatan Rajagaluh, Rabu (2/1/2019).

Kini terhadap korban Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Kabupaten Majalengka akan melakukan pendampingan psikologi untuk pemulihan traumatiknya.

Disampaikan Kapolres Majalengka, Ajun Komisaris Besar Polisi Mariyono didampingi Kasat Reskrim, Ajun Komisaris M Wafdan Muttaqin tersangka diamankan Selasa (1/1/2019) atas laporan orang tua korban Melati.

Kasus tersebut mulai terungkap atas laporan Mawar kepada orang tuanya yang menyebutkan telah dicabuli oleh AS dan diancam untuk tidak melaporkan perbuatan tersangka kepada siapapun. Namun korban ketakutan dan berupaya melaporkan perbuatan kakek tua tersebut kepada Ibunya.

Ibunya yang mendapat kabar dari anaknya segera melaporkan kasus tersebut ke kepolisian. Hingga akhirnya kasus lainnya juga terungkap bahwa AS tidak hanya melakukan pencabulan terhadap Mawar namun juga Melati. Bahkan melati katanya telah empat kali dicabuli.

Hasil pemeriksaan sementara tersangka pelaku yang kesehariannya bekerja sebagai buruh dan masih memiliki istri ini, melakukan pencabulan terhadap anak sejak beberapa bulan lalu. Dia mengajak anak ke sebuah rumah kosong yang tidak jauh dari rumah korban, di sanalah korban mencabuli ke dua anak tersebut.

“Kami masih melakukan penyidikikan lebih lanjut, menjaga kemungkinan ada korban lainnya atau ada perbuatan yang belum terungkap,” kata Kapolres.

Kepolisian kini telah mengamankan barang bukti sejumlah pakaian milik korban. Terhadap pelaku akan dijerat dengan pasal 82 UU RI, No 17 tahun 2016, tentang perubahan kedua atas UURI No 23 tahun 2002, tentang perlindungan anak. Dengan ancaman hukuman 15 tahun penjara.

Kapolres mengimbau agar para orangtua lebih fokus memperhatikan aktivitas anak-anaknya hal ini terkait semakin maraknya, berbagai kasus kekerasan anak yang akhir-akhir ini cukup menjadi perhatian publik.

“Perhatikan aktivitas anak-anak kita. Itu harga mati yang harus dilakukan para orangtua, sehingga anak-anak bisa terhindar dari barbagai pengaruh buruk dan jadi korban kekerasan seksual,” imbau Kapolres Mariyono.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan KB Kabupaten Majalengka Asmara Dewi mengungkapkan, tingginya angka kekerasan seksual pada anak. Atas persoalan tersebut, pihaknya terus berupaya melakukan sosialisasi agar angka kekerasan terhadap anak bisa ditekan.

Menurut Dewi, berdasarkan hasil kajian kasus tersebut muncul sebagian besar akibat pola asuh yang kurang dari orang tuanya. Hal ini akibat perceraian, ibunya pergi menjadi buruh migran ke Luar Negeri, sedangkan ayahnya menikah lagi dengan perempuan lain. Hingga akhirnya anak diasuh oleh neneknya.

Persoalan lainnya akibat kemiskinan kedua orang tua sibuk mencari nafkah dan anak ditinggal bekerja serta pengaruh media. Anak-anak setuap saat memegang HP yang dengan mudah mengakses konten yang tidak seharusnya menjadi tontonan anak.

Terhadap para korban, menurut Dewi, pihaknya berupaya melakukan pendampingan melalui psikolog anak, hingga anak benar-bendar terhindar dari rasa traumatis yang pernah dialaminya.

“Terhadap para korban kami memberikan pendampingan, kami hadirkan psilokog ke rumah korban. Hanya yang paling efektif adalah pencegahan terhadap anak jangan sampai menjadi korban. Para orang tua atau pengasuh harus benar-benar mengawasi keseharian anak-anaknya,” kata Dewi. (Tati/KC Online)