TOYIBAH (53 tahun) warga Blok Pasir RT 16/RW 03, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka berharap anaknya Nenti Rohaeti atau Sunenti Binti Ito Ode (29 tahun) yang bekerja di Riyadh, Arab Saudi bisa kembali berkumpul bersama keluarga. Tati/KC Online

MAJALENGKA, (KC Online).-

Seorang Tenaga Kerja Indonesia Nenti Rohaeti atau Sunenti Binti Ito Ode (29 tahun), warga Blok Pasir, RT 16 RW 03, Desa Kertawinangun, Kecamatan Kertajati, Kabupaten Majalengka yang sudah 12 tahun lebih bekerja di Riyadh, Arab Saudi tidak jelas kabarnya.

Keluarga berharap, pemerintah bisa melacak keberadaannya Nenti hingga bisa kembali berkumpul dengan keluarga di kampung halaman.

Menurut kakak kandung Nenti, Wini Yanti (34 tahun), orang tuanya Toyibah (53 tahun), Minggu (6/1/2019), Nenti atau Sunenti ini berangkat ke Riyadh, pada Bulan Mei 2006 silam melalui sponsor Oji warga Desa Kertawinangun, satu desa dengan korban hanya berbeda kampung.

Dia berangkat melalui PJTKI PT Duta Wibawa Mandaputra yang beralamat di Jl. Cempaka Raya Nomor 4, RT 14 RW 09, Sawah Barat, Pondok Bambu, Duren Sawit, Jakarta Timur.

“Saat itu saya dan adik saya berangkat ke Riyadh bersama-sama melalui satu perusahaan pengerah tenaga kerja, hanya saya berangkat lebih dulu walaupun daftar belakangan sedangkan adik saya beberapa minggu kemudian,” ungkap Wini.

Beberapa bulan setelah bekerja di Riyadh, Wini mengaku berupaya menghubungi PJTKI untuk menanyakan alamat tempat adiknya bekerja, dan saat itu sempat menghubungi melalui sambungan telepon dan saat dihubungi adiknya mengatakan bekerja di keluarga Ahmad Awad Al Jahrani.

“Saya waktu itu sempat berkomunikasi melalui sambungan telepon seluler. Hanya saat saya pulang setelah dua tahun habis masa kontrak HP diambil majikan karena telepon yang saya gunakan adalah telepon majikan yang dipinjam pakai selama bekerja,“ ungkap Wini.

Dia mengaku, lupa mencatat nomor telepon majikan adiknya, selain itu dia mengira keluarga di kampung halaman telah mencatat nomor telepon majikan dan mengetahui alamatnya.

“Saat pulang pertama saya tidak sempat mengurus alamat adik karena saya pun kembali bekerja ke Arab, di sana saya lepas kontak juga,” kata Wini.

Ketika habis kontrak kedua, Wini pun mengaku belum selesai mengurus keberadaan adiknya karena dia kembali bekerja ke Taiwan.

Tak mengetahui

Sepulang dari Taiwan tahun 2014, dia baru berupaya menghubungi pihak PJTKI yang kebetulan hingga saat ini masih aktif serta alamatnya pun masih tetap. Namun ketika ditanyakan keberadaan adiknya pihak perusahaan tidak mengetahuinya dengan alasan seluruh dokumen TKI habis terkena banjir direktunya juga sudah ganti.

Sehingga tidak ada data apapun memyangkut keberadaan adiknya tersebut. Demikian juga ketika mendatangi BNP2TKI tidak ada yang bisa membantu mencari keberadaanya. Alasanya dokumennya tidak jelas.

“Tidak ada dokumen apapun tentang adik saya Nenti. Kami keluarga juga tidak mengetahui apakah ketika berangkat ke Riyadh ini namanya menggunakan nama Sunenti sesuai yang tertera di Kartu Keluarga ataukah bernama Nenti Rohaeti seperti yang tercantum pada Ijasah SD nya. Karena nama di ijasah dengan di KK berbeda,” papar Wini.

Persoalannya lagi, usia dan nama ketika calon TKI biasanya diubah untuk memperlancar keberankatan. Karena kemungkinan saja usia pun diubah. Saat Nenti berangkat ke Riyadh harusnya berusia 17 tahun namun kemungkinan saat itu diubah oleh pihak sponsor. Sayangnya saat ini sponsor yang memberangkatkan Nenti sudah tidak berada di Kertawinangun entah pindah kemana.

Di tahun 2015, tepatnya 13 Juli keluarga mendapat kiriman surat dari Nenti, isi suratnya menanyakan kabar keluarga satu persatu ditanyakan. Dalam surat juga dikatakan kalau dia bekerja di keluarga Ahmad Awad Al Jahrani di PO Box 240761, ZIP Code 11322, Riyadh, KSA.

“Sayangnya ketika surat dibalas malah surat kembali karena katanya alamat tidak ditemukan. Setahu saya nama Ahmad Awad Al Jahrani di Riyadh itu orang terkenal dan berpengaruh,” kata Wini.

Surat tersebut kini entah di mana karena menurut Toyibah, surat dibaca oleh banyak orang hingga keluarganya di Sumedang yang penasaran dengan kondisi anaknya.
Semula menurut Toyibah, anaknya berangkat menjadi TKI ingin mandiri seperti kakak-kakanya yang juga berangkat ke Arab Saudi. Sehingga Nenti yang hanya menginjak bangku SMP di Sumedang di usia 17 tahun pun berangkat bersama kakanya ke Arab Saudi.

Katanya, dia ingin memiliki masa dengan yang lebih baik, mengubah hidupnya yang tidak bisa tamat SMP serta ingin membahagiakan orang tua yang hanya menjadi petani. Makanya semula telah merencanakan sepulang jadi TKI akan kembali melanjutkan sekolah SMP nya hingga tamat.

“Tadina mah mun uih ti Arab bade neraskeun deui sakola ka SMP, da tadina ukur dugi ka kelas hiji (sedianya kalau pulang bekerja di Arab Saudi akan meneruskan kembali sekolahnya ke SMP, karena awalnya hanya sampai kelas satu),” kata Toyibah.

Kini, keluarga menurut Toyibah dan Wini, ingin melacak keberadaannya namun karena terbentur dana hingga akhirnya pasrah dengan keadaan. Kini keluarga hanya berharap pada keajaiban Nenti bisa pulang dan berkumpul kembali serta membawa berkah baginya dan keluarga. (Tati/KC Online)