Tambak Udang. (KC Online)

INDRAMAYU, (KC Online).–

Belum juga kesedihan itu hilang, kini kisah pilu kembali dialami kalangan petani tambak udang di Kabupaten Indramayu. Tanpa diketahui penyebabnya, udang jenis vaname yang baru beberapa minggu mereka budidayakan, mati mendadak. Para petambak pun menanggung kerugian yang besar.

Kondisi tersebut dialami para petambak di Blok Pulomas, Desa Panyingkiran Kidul, Kecamatan Cantigi. Dari luas areal tambak udang sekitar 250 hektare yang ada di blok itu, sebanyak 80 persen di antaranya mengalami kematian. Sedangkan sisanya, masih bisa diselamatkan dengan cara panen dini.

“Kami tidak tahu apa penyebab semua ini,” kata Sanadi (52) seorang petambak, saat ditemui di Desa Panyingkiran Kidul Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu, Minggu (13/1/2019).

Dijelaskan Sanadi, kematian udang itu terjadi tiga hari yang lalu. Tanpa diketahui penyebabnya, udang yang dibudidayakannya tiba-tiba ada yang mengambang di permukaan tambak, ada juga yang nyangkut di sebuah ganggang.

Menurutnya, udang yang mati itu baru berumur satu setengah bulan. Karena itulah, dia kini menderita kerugian karena sebelumnya telah mengeluarkan modal sekitar Rp 2,5 juta per petak (1 petak = 0,5 hektare). Modal tersebut digunakannya untuk membeli bibit udang osla (bibit udang yang besar) maupun pakan udang dan ongkos tenaga kerja, temasuk oba-obatan. “Kini semuanya mubazir,” tambah Sanadi.

Hal senada diungkapkan petambak lainnya, Kadim (61). Ia menduga, kematian udang ada hubungannya dengan masuknya air tawar kiriman dari Sungai Cimanuk dalam volume yang besar. Akibatnya, air tambak terlalu banyak terisi oleh air tawar sehingga udang tidak bisa bertahan. “Saya hanya bisa pasrah dan tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Kadim.

Stres

Sementara itu, untuk menghindari kerugian yang besar, sebagian petambak ada yang memanen udangnya secara dini. Dalam kondisi normal, masa tanam budidaya udang berkisar tiga sampai empat bulan. Namun karena udang yang baru berumur dua bulan itu mengalami gejala stres, petambak langsung memanennya.

Dalam kondisi normal, udang baru dipanen jika mencapai ukuran 25 – 30 per kg dengan harga R70 ribu – Rp 80 ribu per kg. Namun dengan adanya masalah tersebut, udang sudah dipanen saat uk urannya masih 90 – 100 per kg dengan harga Rp 15 ribu – Rp 20 ribu per kg.

“Dipanen pun untungnya cuma seberapa,” tambah Iwang seorang petambak yang melakukan panen dini.

Iwang menjelaskan, modal yang dikeluarkannya sekitar Rp 2 juta per petak. Sedangkan keuntungan yang diperolehnya dari panen dini itu hanya Rp 200 ribu. “Ini sudah risiko. Kadang untung, kadang rugi,” kata Iwang. (Odok/KC Online)