SUASANA Pasar Talang di Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Selasa (5/2/2019). Meski menjual aneka barang bekas, namun pasar ini tak pernah sepi pembeli. Fany/KC Online

LEMAHWUNGKUK.(KC Online).-

IPAH (70 tahun) sedang melipat baju-baju bekas di kios sederhananya di kawasan Pasar Talang, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Selasa (5/2/2019).

Kawasan Talang cukup ramai karena banyak warga yang ingin menyaksikan perayaan Imlek di Klenteng Talang yang letaknya hanya beberapa meter dari kiosnya.

Banyak warga lalu lalang di depan kiosnya, tak sedikit pula yang mampir lalu membeli baju bekas yang dijualnya.

Ipah merupakan salah satu penjual barang bekas di Pasar Talang atau persis belakang gedung BAT. Kawasan ini tak lekang oleh waktu, karena masih banyak warga yang membutuhkan barang bekas, seperti halnya baju bekas yang dijual Ipah.

Di pasar ini, kita bisa menemukan aneka barang bekas, mulai dari pakaian, perabotan rumah tangga, hingga furniture dan barang pecah belah.

“Saya sudah menjual baju bekas total selama 52 tahun atau saat saya berusia 18 tahun, mulai kiosnya saat dekat dengan Pasar Kanoman dan hingga kini kiosnya berada di Pasar Talang. Pasar yang menjual barang bekas itu tak akan pernah gulung tikar, akan selalu ada, sebab faktanya masih banyak warga yang membutuhkan barang bekas,” kata Ipah.

Menurutnya, dirinya yang sudah menjual baju bekas selama lebih dari 50 tahun adalah tanda banyak warga yang masih membutuhkan barang bekas.

“Kalau tidak butuh barang bekas, saya sudah tidak jualan lagi, buktinya saya sudah lebih dari 50 tahun dan tetap eksis hingga kini,” ungkapnya.

Ipah menjual baju bekasnya dengan harga termurah Rp 10 ribu dan termahal Rp 30 ribu. Tiap hari, dirinya tak sepi dari pembeli.
“Sesepi-sesepinya itu tetap ada yang beli, meski dua atau tiga orang. Kebanyakan belinya adalah baju harga Rp 10 ribuan, lumayan kan daripada saya nganggur di rumah saja,” katanya.

Menurutnya, ia mendapatkan stok baju bekasnya dari warga yang dengan sengaja menjual kepadanya.
“Ada yang datang ke sini, kadang bawa bajunya banyak, kadang sedikit, lalu saya jual lagi. Intinya sih saya tak pernah kehabisan stok,” ujarnya.

Senada, pedagang barang bekas lainnya yang kiosnya berada persis di pinggir kios Ipah, Solihudin (52 tahun) mengatakan, dirinya menggantungkan hidup dari hasil jualannya di Pasar Talang ini.
“Saya menjual lebih dari satu jenis barang, mulai dari perabotan rumah tangga sampai furnitur,” katanya.

Saat ditemui KC Online, Solihudin bersama temannya, Wisnu (36 tahun), sedang memperbaiki sebuah furniture meja zaman dahulu.
“Tinggal dibersihkan saja dan dihaluskan dengan cara diplistur pasti bagus lagi. Ini namanya zaman dahulu disebut kursi telepon, karena kursi dan mejanya menyatu, dulu biasanya telepon rumah itu disimpan di meja seperti ini,” katanya.

Ia akan menjual meja dan kursi ini seharga Rp 1 juta. Jika masih baru, furniture ini disebutnya cukup mahal.
“Karena terbuat dari kayu jati yang pastinya bisa tahan lama, sehingga untuk barang bekasnya kami jual seharga Rp 1 juta,” ungkapnya.

Bapak dua anak ini mengaku sangat terbantu dengan hasil dari berjualan di Pasar Talang. Sebab, sama dengan Ipah, tiap hari selalu ada yang membeli barang bekas di kiosnya.

“Kebanyakan perabotan rumah tangga yang berhasil terjual. Segitu saja sudah lumayan, kalau bisa jangan ada pemindahan Pasar Talang ini ke lokasi lain, sebab dulu lokasi pasar barang bekas itu tidak di sini, melainkan di dekat Pasar Kanoman,” ujarnya. Fany/KC Online