DALAM usianya yang relatif muda, ia tak pernah surut dalam menjalankan kewajibannya sebagai mahasiswa dan selalu istiqomah (konsisten) untuk tetap menekuni ilmu di bangku perkuliahan.

Termasuk merintis usaha barunya di bidang penjualan minuman segar dari bahan baku buah markisa sebagai unit produksi Universitas Islam Al-Ihya (Unisa) Kuningan.

Itulah sosok Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unisa, Herdiana (25 tahun) yang selalu tegar dalam melaksanakan tugas organisasi kemahasiswaan maupun mencari peluang usaha sebagai bekal hidup kelak. Selagi ada kesempatan, dia tak pernah menyia-nyaikan peluang apapun yang dapat memberikan nilai tambah bagi kehidupan.

Termasuk dalam pengembangan budidaya markisa di kapung halamannya, Desa Bunigeulis Kecamatan Hantara Kabupaten Kuningan dan di beberapa desa tetangga wilayah Kuningan selatan.

Dia menyatu dengan masyarakat khususnya petani markisa sebagai bahan baku minuman segar yang kini telah menembus pasar dan memasuki super market.

‘Alhamdulillah, berkat kerja keras serta dukungan banyak pihak, minuman segar dari bahan baku buah markisa kini banyak diminta konsumen. Termasuk menyuplai ke beberapa toko swalayan, khusunya yang ada di Kuningan maupun luar daerah sesuai permintaan,” kata Herdiana, ketika berbincang-bincang dengan Kabar Cirebon, baru-baru ini.

Kegiatan yang dilakukan selama ini, baik dalam menjalan dunia usaha maupun menekuni ilmu dilembaga pendidikan Islam tersebut sebagai implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi yakni pendidikan, penelitian dan pengabdian pada masyarakat.

Karenanya, bagi Herdiana studi di Pergururuan Tinggi tersebut selain akan menambah ilmu pengetahaun baginya, juga dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lewat kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut.

Pria yang sempat meraih prestasi sebagai Pemuda Pelopor Nasional tahun 2018 dibidang pangan ini, juga sebagai pesilat yang kerap ikut dalam berbagai kejuaraan. Selama ini, Herdiana tergabung dalam sebuah perguruan ilmu bela diri ternama di Kab. Kuningan, yakni Perguruan Silat Bima Suci yang dirintis guru besar Rudi Rudianto dan guru besar Mamat Komarudin almarhum.

Menurutnya, seorang pesilat selalu berpegang teguh pada sportivitas dan jiwa ksatria untuk membela kebenaran maupun dalam beruusaha sebagai bekal hidup kelak.

“Saya selalu berupaya untuk tetap berjalan maju dan tak pernah mundur seperti pion sebagaimana dalam sebuah permainan olahraga catur,” katanya. (Emsul/KC)