PENJABAT (Pj) Bupati Cirebon, H Dicky Saromi menandatangani berita acara Pelantikan Pengurus dan Dewan Kehormatan PMI Kabupaten Cirebon Masa Bhakti 2018-2023", di Kantor Bupati Cirebon, Rabu (6/2/2019). Ismail/KC Online

SUMBER, (KC Online).-

Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, H Dicky Saromi menilai, Kabupaten Cirebon adalah daerah yang masuk 10 besar kota/kabupaten di Jawa Barat (Jabar) yang rentan bencana. Maka, peran semua pihak sangat diperlukan agar meminimalisasi risiko terjadinya bencana tersebut.

Demikian disampaikan Dicky Saromi yang juga mantan Kepala Badan Penanggulangan Bancana Daerah (BPBD) Provinsi Jabar tersebut, saat sambutan dalam kegiatan “Pelantikan Pengurus dan Dewan Kehormatan PMI Kabupaten Cirebon Masa Bhakti 2018-2023”, di Kantor Bupati Cirebon, Rabu (6/2/2019).

Menurut Dicky, yang perlu diingat bagi PMI Kabupaten Cirebon adalah, bukan hanya harus bergerak di bidang donor darah saja. Tetapi terkait kesehatan masyarakat dan kebencanaan juga, kiprah PMI ini sangatlah dibutuhkan di daerahnya.

“Dari sisi kebencanaan, Kabupaten Cirebon ini termasuk 10 besar kabupaten/kota yang rentan bencana di Jawa Barat. Selama ini kita hanya mengenal bencana yang kalau musim kemarau kekeringan, kalau musim hujan kebanjiran saja,” kata Dicky.

Namun, kata dia, selain itu masih banyak bencana-bencana alam lainnya yang berpotensi terjadi di Kabupaten Cirebon. Seperti di antaranya yakni bencana geologi, yakni ada dua. Pertama vulkanologi yang ancamannya dari Gunung Ciremai, kemudian yang kedua lempeng sesar balibis.

Selanjutnya, kata Dicky, di Kabupaten Cirebon juga terdapat bencana biologi, seperti hama penyakit dan lainnya “Kemudian ada bencana dari sisi lingkungan seperti sampah, dan bencana sosial,” katanya.

Terkait penanggulangan dan antisipasi terjadinya bencana-bencana alam tersebut, ia mengaku, sudah membicarakannya dengan pihak PMI Kabupaten Cirebon. Seperti memberikan pelatihan atau simulasi penanganan bencana secara terus-menerus kepada masyarakat.

“Saya sudah berbicara dengan PMI Kabupaten Cirebon. Mau tidak mau kita dengan PMI secara kontinuitas harus melakukan simulasi penanganan bencana. Dalam rangka mengurangi risiko bencana itu sendiri. Dan ini yang penting dilakukan dengan PMI ke depannya,” ungkap Dicky.

Selanjutnya, kata dia, dari sisi kesehatan masyarakat, PMI Kabupaten Cirebon pun harus ikut berkiprah di dalamnya. Menurutnya, jumlah penduduk di daerahnya sudah sebesar 2,1 juta jiwa dan dimungkinkan akan terus meningkat, karena tingkat migrasi atau urbanisasinya sudah semakin tinggi.

Sebab, lanjut dia, sekarang hampir semua orang ingin menuju Cirebon dan sudah banyak investor berdatangan karena upah buruh murah, lahan masih luas, serta akses transportasi sudah baik. Maka, kata dia, faktor kesehatan menjadi pertanyaan besar jika tidak bisa diantisipasi dan dilakukan pencegahannya.

“Bahkan, di Kabupaten Cirebon ini penyakit yang tidak menular justru lebih berkembang dibandingkan penyakit yang menular. Maka, kepada pengurus PMI yang baru dilantik, harapan saya PMI ini mampu berkiprah lebih baik lagi untuk Kabupaten Cirebon ke depannya. Karena memang peran PMI ini ditunggu masyarakat dari sekarang hingga seterusnya,” ujar Dicky.

Sementara itu, Ketua PMI Kabupaten Cirebon, Rd Sri Heviyana mengaku, sebelum dilantik pun, pihaknya sudah mempersiapkan program untuk ke depannya. “Jadi alhamdulilah dengan pelantikan ini lebih memiliki semangat kami para pengurus dan ketua PMI kecamatan bagaiaman mengembangkan PMI ke depan lebih baik lagi,” kata Heviyana.

Program yang harus dilakukan ke depan, kata dia, yakni utamanya mengenai masalah donor darah. Bahkan, PMI kecamatan pun sudah berkomitmen dan siap untuk selalu meningkatkan donor darah di masing-masing kecamatan.

“Kita memiliki program dengan bagaimana pelatihan penanggulangan bencana, pelatihan SDM. Termasuk masalah sosialisai mengenai keselamatan dan kesehatan kerja (K3) untuk lingkungannya,” kata Heviyana.(C-15)