Pasar Sumber, Kabupaten Cirebon. KC Online.Doc

SUMBER, (KC Online).-

Para pedagang Pasar Sumber, meminta kepastian Pemerintah Daerah (Pemda) Kabupaten Cirebon untuk bisa pindah dari pasar darurat atau menempati bangunan baru yang direvitalisasi pasca kebakaran tersebut.

Salah satu penghambat belum ditempatinya Pasar Sumber, karena ada 800-an pedagang yang tidak mendapatkan kios, los, atau lemprakan di dalam pasar ini.

Saat Pasar Sumber belum ditempati para pedagang. KC Online.Doc

Seperti diketahui, bangunan Pasar Sumber hanya menampung 549 pedagang. Jumlah itu sesuai dengan data pedagang sebelum pasar tersebut terbakar. Namun, pasca kebakaran jumlah pedagang mencapai 1.309 orang. Banyaknya pedagang baru yang ikut berjualan di pasar darurat menjadi kendala untuk bisa menempati bangunan tersebut. Sebab, mereka tak tertampung.

Meski sebelumnya mereka akan ditempatkan di sepanjang jalan depan Pasar Sumber dengan aturan yang ditentukan, tetapi muncul gejolak dari para pemilik rumah toko (ruko) Pasar Sumber, karena toko mereka tertutup oleh para pedagang lemprakan.

Dengan tidak segera ditempatinya bangunan pasar ini, menjadi keluhan tersendiri bagi pedagang Pasar Sumber. Sebab, bangunan yang dinanti mereka sejak beberapa tahun lalu, sampai sekarang masih belum pasti kapan akan ditempati.

Salah seorang pedagang Pasar Sumber, H Urip (62 tahun) mengaku masih belum mengetahui secara pasti kapan akan menempati bangunan baru itu. Meski demikian, karena sudah ingin segera pindah dari pasar darurat, dia pun mulai berbenah dan mengisi kios baru di Pasar Sumber dengan barang dagangannya.

Kios Pasar Sumber.KC Online.Doc

“Katanya sih tanggal 17 sudah bisa ditempati, itu pun masih belum pasti. Sebab sebelumnya juga direncanakan tanggal 12 bisa ditempati, kemudian tanggal 15, lalu mundur lagi tanggal 17, jadi enggak tahu kapan pastinya,” kata Urip kepada KC Online, Rabu (13/2/2019).

Ia mengaku, selama berjualan di pasar darurat, omsetnya menurun drastis dibanding sebelum pasar tempat berjualannya itu terbakar. Maka, ia pun segera berbenah mengisi kiosnya itu dengan barang-barang dagangan dia meski kapan mulai ditempati, masih belum pasti. “Ya siap-siap saja, meski di pasar darurat juga masih berjualan,” ungkap Urip.

Ia menceritakan, sewaktu Pasar Sumber terbakar, dirinya baru saja belanja. Namun, semua barang belanjaan yang ada di dalam kios itu ludes terbakar, hingga mengakibatkan kerugian cukup besar. “Karena baru diisi belanjaan, Rp 100 juta lebih saya rugi. Semuanya terbakar, tidak ada yang bisa diselamatkan,” ujar Urip.

Ketua DPRD Kabupaten Cirebon H Mustofa menyampaikan, kalau tidak mau polemik ini berkelanjutan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Diperdagin) setempat harusnya jangan lari dari tanggung jawab. “Kalau lari dari tanggung jawab mundur saja dari jabatannya,” kata Mustofa.

Ketua DPRD Kabupaten Cirebon H Mustofa. KC Online

Menurut pria yang akrab disapa Jimus ini, revitalisasi Pasar Sumber dilakukan karena kondisi bencana. Artinya, jangan sampai itu dijadikan kepentingan politik oleh penguasa untuk direlokasi. Oleh karena itu, DPRD kala itu sampai mengeluarkan rekomendasi Pasar Sumber harus direvitalisasi.

“Jumlah pedagang dulu tak sebanyak sekarang yang mencapai 1.309 pedagang. Tingginya jumlah pedagang itu karena sebelumnya direncanakan relokasi. Tapi, kami mengeluarkan rekomendasi agar direvitalisasi,” katanya.

Menanggapi penolakan sejumlah pemilik ruko terhadap rencana ratusan pedagang lemprakan yang akan berjualan di jalan, Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Cirebon malah mengikritik Disperdagin. Kritikan itu lantaran Disperdagin belum bersikap dengan adanya kirsruh antar pedagang. Padahal, letak pasar tersebut di jantung ibu kota Sumber.

Hal itu disampaikan langsung Kepala Dishub Kabupaten Cirebon, Abraham Mohammad. Menurutnya, keberadaan lapak lemprakan di bahu jalan sudah jelas melanggar aturan dan akan mengganggu arus lalulintas. Bukan hanya itu, hak pejalan kaki pun dirampas.

Kepala Dishub Kabupaten Cirebon, Abraham Mohammad. KC Online

“Kami dari Dishub bukannya tidak mengizinkan, secara naluri dan tupoksi ini bertolak belakang. Mungkin secara naluri sah-sah saja ingin jualan dipinggir jalan atau di mana. Cuma ada haknya para pejalan kaki dan pengendara lalulintas yang terganggu apabila pedagang lemprakan berjualan di jalan,” ujar Abraham.

Ia melanjutkan, pedagang lemprakan yang rencananya memakan bahu jalan di waktu-waktu tertentu dan bersifat sementara hanya di lisan saja. Karena pasti pada faktanya, akan berkepanjangan. Dan untuk menertibkannya akan kerepotan. “Yang menertibkan tugasnya, Satpol PP sebagai penegak perda,” katanya.

Abraham berharap, Disperdagin Kabupaten Cirebon lebih bisa tanggap untuk memfasilitasi seluruh pedagang tanpa mengorbankan salah satu pihak. “Artinya, jangan salah ambil langkah. Harus bisa mempertimbangkan dampak positif dan negatifnya,” ungkap Abraham.

Sementara itu, Kabid Ketertiban Umum Satpol PP Kabupaten Cirebon, Iman Sugiarto mengaku, belum bisa memberikan statemen soal kisruh pedagang Pasar Sumber yang akan berjualan di bahu jalan. Ia mengarahkan, ke Kasatpol PP sebagai pimpinan.

“Saya sudah koordinasi dengan Pak Kasat. Katanya, biar Pak Kasat saja yang memberikan statemen soal pedagang Pasar Sumber, supaya satu suara,” katanya.

Sebelumnya, Kepala Bidang Pasar (Kabid) pada Disperdaging Kabupaten Cirebon, Eka Hamdani mengaku, membludaknya pedagang baru hingga tidak tertampung dalam bangunan pasar itu, menjadi solusi bersama agar mereka terakomodir dengan tetap bisa berjualan, namun syaratnya kondisi wilayah pun harus bisa tertata dengan tertib, aman, dan nyaman.

“Yang jelas kami hanya bisa mengatur apa yang ada di dalam porsi kami, yakni yang ada di dalam pasar. Kalau pedagang lainnya bukan kewenangan kami sepenuhnya, tapi Satpol PP, dan Dishub juga. Karena secara aturan juga tidak diperbolehkan berjualan di jalan,” kata Eka.

Sementara itu, Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, H Dicky Saromi saat dikonfirmasi mengaku, pada prinsipnya pemerintah daerah akan mengakomodir semua pedagang yang ada. Artinya, semua pedagang yang ada di pasar darurat akan berjualan di Pasar Sumber.

Penjabat (Pj) Bupati Cirebon, H Dicky Saromi KC Online

“Alternatifnya, nanti para pedagang yang lemprakan akan berjualan di samping kanan-kiri bangunan Pasar Sumber,” kata Dicky.

Jadi, lanjut Dicky, nanti para pedagang diharapkan tidak saling berkompetisi tapi saling mendukung satu sama lain, sehingga ada simbiosis mutualisme. Karena kata dia, jika pasar diramaikan semuanya paati ikut ramai.

“Di lain pihak kita berharap kalau ini bisa ditampung di pasar yang ada ini juga tidak mengganggu lingkungan terutama lalulintas. Karena bagaimanapun juga jangan sampai pasar semrawut. Harapan kami ini bisa dilakukan dalam waktu dekat,” katanya.

Hal itu, lanjut dia, tentunya kepala pasar sudah melakukan pendekatan dengan pihak-pihak terkait dan dengan dukungan DPRD memungkinkan bisa dilakukan secara lebih cepat dan baik. (C-15)