PERWAKILAN Forum Pedagang Pasar Sumber (P3SR) menenangkan ratusan pedagang yang berebut formulir untuk penempatan lapak di Pasar Sumber Kec.Sumber Kab.Cirebon, belum lama ini. Iwan/KC Online

SUMBER, (KC Online).-

Sepanjang jalan di dekat Pasar Sumber, rencananya dijadikan lapak bagi ratusan pedagang yang tidak tertampung di bangunan baru pasar setempat. Namun puluhan pemilik rumah toko (Ruko) yang ada di sepanjang jalan tersebut tidak berkenan.

Seperti diketahui, 800 ratusan pedagang yang tak tertampung di dalam Pasar Sumber, akan ditempatkan di jalan. Pengisian formulir yang berisi perjanjian untuk menaati peraturan pun dilakukan para pedagang pada Jumat (8/2/2019) lalu. Mereka yang dikoordinir oleh Persatuan Pedagang Pasar Sumber ini, rencananya berjualan pada Pukul 18.00-06.00 WIB.

Pada Minggu (10/2/2019) dini hari badan jalan yang akan dijadikan lapak bagi ratusan pedagang itu pun buat garis atau skat-skat ukuran 1×1,5 meter dengan menggunakan cat berwarna putih oleh Persatuan Pedagang Pasar Sumber.

Namun puluhan pemilik ruko di sepanjang jalan itu pun marah dan sebagian ada yang langsung menghapus garis tadi. Ada juga yang meluapkan kekesalannya dengan menulis “Jalan Umum” pada garis tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun KC Online, ada 30 pedagang di ruko Pasar Sumber dan merasa dirugikan jika rencana jalan depan mereka dijadikan lapak terlaksana. Marahnya mereka, disebabkan rukonya tertutup dan lapak yang digunakan adalah jalan umum.

“Kalau pedagang lemparakan di sini semua, kami tertutup. Lalu yang beli ke toko kami bagaimana jalannya? Dan dari awal sampai membuat garis lapak tidak pernah melibatkan kami,” ujar salah seorang pemilik ruko Pasar Sumber, Jon (76 tahun) kepada KC, Senin (11/2/2019).

Ia melanjutkan, para pedagang lemprakan yang direncanakan akan menempati badan jalan tepat di depan ruko miliknya itu, telah membeli lapak mereka seharga Rp 60 ribu. Mereka berjualan dari Pukul 18.00-06.00 WIB. “Tapi tidak mungkin kalau mereka hanya sampai Pukul 06.00 WIB. Sampai siang pun pasti masih buka, kan pembeli masih ramai. Jadi jelas kami tidak setuju,” kata Jon.

Dengan kondisi demikian, puluhan pemilik ruko pun merasa kecewa. “Saya ini jualan daging. Kalau daging datang itu banyak, bagaimana cara mengangkutnya kalau jalan tertutup. Pembeli juga banyak yang pakai daging. Ini bagaimana kalau jalan tertutup, bisa-bisa sepi,” kata pedagang lainnya, Tarini (54 tahun).

Surat keberatan

Menurut dia, jalan yang akan dijadikan lapak itu harusnya digunakan untuk lalu lintas, bukan dipakai untuk berjualan. Atas permasalahan itu, para pemilik ruko sudah mengajukan surat pernyataan keberatan atas kehadiran pedagang lemprakan yang nantinya berjualan di depan toko mereka.

“Ini dibuat sama Persatuan Pedagang Pasar Sumber. Kami tidak dilibatkan. Keinginan kami sih, mereka semua masuk ke dalam pasar. Ini katanya nanti kanan kiri semua dibuat garis untuk lemprakan hingga ke perempatan Pasar Sumber dan itu untuk 800 pedagang. Otomatis kami semua ketutup,” kata Tarini.

Menanggapi permasalahan tersebut, Wakil Ketua Persatuan Pedagang Pasar Sumber, Nata mengaku akan berkoordinasi lebih lanjut dengan para pedagang dan beberapa instansi terkait.

“Memang dari awal kita sudah mencoba memfasilitasi pedagang yang tidak mendapat tempat. Kalau di dalam semua tidak mungkin, kalau di luar juga bagaimana? Ini yang perlu dikoordinasikan dengan instansi terkait,” kata Nata.

Ia menjelaskan, jika merujuk pada data pedagang pascakebakaran Pasar Sumber 2015 lalu, yakni ada 1.309 pedagang. Jumlah itu, yang masuk di dalam pasar ada sekitar 500-an pedagang. Sedangkan sisanya pedagang yang tidak memiliki kios, los, atau lemprakan di Pasar Sumber.

“Di dalam Pasar Sumber mampu menampung 549 pedagang, di mana ada 76 pedagang yang menempati kios, 313 pedagang yang menempati los, 160 pedagang yang menempati lemprakan,” kata Nata. (C-15)