SEKITAR Keraton Kasepuhan Kota Cirebon, rencananya akan disulap menjadi wisata Kota Tua. Andi/KC Online

CIREBON.(KC Online).-

PEMKOT Cirebon menargetkan 2 juta wisatawan datang ke Kota Udang ini. Dinas Kepemudaan Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata (DKOKP) Kota Cirebon menanggapi target secara optimistis. Plt Kepala DKOKP, Edi Bagja mengatakan, Kota Cirebon masih ‘menjual’ wisata sejarah dan budaya agar target 2 juta pengunjung tersebut bisa terpenuhi.

“Termasuk destinasi wisata Kota Tua yang akan kita fokuskan untuk wisata sejarah tersebut. Tinggal kita menggali, melakukan revitalisasi di kawasan Kota Tua, mau yang original atau memakai inovasi sendiri,” kata Edi, Kamis (7/2/2019).

Menurutnya, nantinya di lokasi destinasi wisata Kota Tua tersebut akan ditampilkan semacam diorama, aneka kuliner, serta spot foto yang menarik. “Di kawasan itu ada sebetulnya sudah komplit, ada klentengnya, ada banyak gedung tuanya, tinggal ada sentuhan,” ujarnya.

Edi menambahkan, pihaknya akan memperbanyak event pada tahun ini sebagai upaya mengejar target kunjungan wisatawan. “Tahun ini tahun penuh event, kita akan kemas beragam acara secara optimal,” ungkapnya.

Sementara itu, keberadaan kawasan Kota Tua yang juga masuk di sekitar kawasan Keraton Kasepuhan dinilai sangat menjual sebagai daya tarik wisata oleh berbagai pihak. Selama ini, keberadaan potensi destinasi wisata budaya sejarah itu, sama sekali belum tersentuh karena tenggelam oleh pamor Keraton Kasepuhan.

Padahal keberadaan kota tua sekaligus kota kuno di kawasan Keraton Kasepuhan sangat menjual menjadi destinasi wisata. Bahkan bisa menjadi ikon wisata Kota Cirebon yang bakal mendongkrak jumlah wisatawan, untuk mengejar target 2 juta wisatawan yang dicanangkan Pemkot Cirebon.

Menurut Dekan Fakultas Teknik Universitas Kristen Parahyangan (Unpar) Bandung, Yohanes Basuki Dwisusanto, potensi kawasan kota kuno sekaligus tua itu tidak kalah menarik dengan pesona Keraton Kasepuhannya.

“Dari hasil pendataan bangunan, aspek arsitektur dan arkeologi di Keraton Kasepuhan dan sekitarnya yang dilakukan mahasiswa kami, di kawasan kota kuno masih banyak rumah-rumah tua yang masih asli,“ katanya.

Menurutnya, rumah-rumah kuno tersebut adalah rumah jabatan pembesar Kesultanan Cirebon masa lampau. Kenapa disebut kuno, menurut Basuki, karena memang kawasan tersebut sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Menurutya, Kesultanan Cirebon lebih tua dibandingkan Kesultanan Yogyakarta.

“Keberadaan tembok benteng tebal dari batu bata yang mengelilingi kawasan kota kuno yang masih terpelihara bisa menjadi daya tarik juga, “ paparnya.

Menurut Basuki, yang perlu dipertajam adalah narasi dari destinasi yang ditawarkan. “Narasi yang bagus bisa membangkitkan rasa ingin tahu wisatawan. Destinasi yang sangat biasa pun bisa menjelma menjadi luar biasa dengan narasi yang bagus. Apalagi ini modalnya sudah luar biasa, dari aspek sejarah, budaya, arsitektur dan lainnya,“ katanya.

Jejak sejarah

Menurut Basuki, penataan kembali kawasan Keraton Kasepuhan perlu dilakukan agar wisatawan bisa menikmati dan menelusuri jejak sejarah dan lainnya dari pintu masuk keraton, kemudian menelusuri kota kuno, dan keluar melalui lawang sanga (pintu sembilan) yang berada di bagian belakang kawasan kota kuno.

Lawang sanga adalah bangunan kuno semacam dermaga di tepi Sungai Kriyan yang dulu punya nama Sungai Gangga. Lawang Sanga menjadi pintu masuk tamu-tamu keraton yang datang dengan menggunakan perahu. “Dengan cara begitu wisatawan bisa sekaligus melihat, mengamati dan menikmati secara lengkap kunjungannya ke keraton,“ katanya.
Hanya, diakuinya akan ada banyak aspek yang harus ditata, bukan hanya infrastrukturnya namun juga kehidupan keseharian masyarakatnya.

Menurutnya, kegiatan pendataan merupakan salah satu wujud kegiatan pengabdian kepada masyarakat mahasiswa jurusan Teknik Arsitektur Universitas Katolik Parahyangan (Unpar) dan program studi Arsitektur Sekolah Tinggi Teknologi Cirebon (STTC) bekerja sama dengan Keraton Kasepuhan, yang sudah dipublikasi kepada masyarakat belum lama ini.

Sultan Sepuh XIV Keraton Kasepuhan Pangeran Raja Adipati Arief Natadiningrat yang dimintai komentarnya atas masukan tersebut mengungkapkan, pihak keraton sebenarnya sudah lama menginginkan penataan kawasan kota kuno kepada pemerintah.

“Kami memang sudah lama mengharapkan kawasan Keraton Kasepuhan dan sekitarnya dapat ditata dan disinergikan. Oleh karena itu kami mengusulkan revitalisasi Keraton Kasepuhan seluas 25 ha, termasuk rumah-rumah magersari di sekitar keraton,” katanya.

Menurut Sultan Arief, harapan tersebut sebenarnya sesuai dengan harapan Presiden Joko Widodo, yang pada 4 Januari 2018 lalu di Istana Bogor menjanjikan revitalisasi keraton secara tuntas dan menyeluruh.

Menurutnya, sudah tiga tahun ini Keraton Kasepuhan bekerja sama dengan Fakultas Arsitektur Unpar dan STTC mendata bangunan arsitektur dan arkeologi di Keraton Kasepuhan. “Yang sudah didata adalah komplek siti inggil, komplek dalem agung dan lawang sanga,” katanya.

Selain sebagai pengetahuan akademis dan revitalisasi keraton, hasil pendataan juga bisa dimanfaatkan untuk penataan kepariwisataan dan menjadi bahan Pemkot Cirebon dalam melestarikan dan mengembangkan pariwisata. Fani/KC Online