Kondisi itu terjadi pada areal tambak di Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. tambak yang hancur tersapu bentrokan antara rob-roban dan banjir kiriman dari Sungai Cimanuk, Minggu (10/2/2019). Odok/KC Online

INDRAMAYU, (KC Online).-

Gelombang pasang air laut dan banjir kiriman menghancurkan ratusan hektare areal tambak bandeng. Para petambak pun mengalami kerugian yang besar.

Kondisi itu terjadi pada areal tambak di Blok Waledan, Desa Lamarantarung, Kecamatan Cantigi, Kabupaten Indramayu. Di desa tersebut, sedikitnya 2.500 hektare tambak yang hancur tersapu bentrokan antara rob-roban dan banjir kiriman dari Sungai Cimanuk, Minggu (10/2/2019).

“Benturan air antara rob-roban dan banjir kiriman menyebabkan luapan aie dan menggenangi seluruh tambak dan akibatnya isi dalam tambak limpas,” ujar Rangsih (41) petambak setempat, Senin (11/2/2019).

Rangsih mengatakan, dirinya membudidayakan ikan bandeng di areal tambak seluas empat hektare. Ikan bandeng itu sudah berumur lima bulan.

Namun, bentrokan air asin itu membuat air dalam tambaknya menjadi limpas. Akibatnya, seluruh ikan bandeng yang dibudidayakan dalam tambak menjadi hanyut. “Semua ikan bandeng peliharaan hilang ludes disapu bentrokan air itu,” tambah Rangsih.

Rangsih mengaku, telah mengeluarkan modal sekitar Rp 2,5 juta per hektare. Modal hasil pinjaman itu digunakan untuk membeli bibit bandeng dan pakan termasuk biaya pembelian obat-obatan juga pemeliharaannya selama lima bulan jalan.

Meski prihatin dengan kondisi itu, Rangsih tak mau menyerah. Usai memperbaiki kondisi tambak yang rusak dan mengangkut sampah yang masuk ke tambak, dia kembali menebarkan benih bandeng baru.

Tidak kapok

Hal serupa dialami petambak lainnya, Sano. Ayah beranak satu itu mengatakan, telah kehilangan seluruh ikan bandeng di lahan tambak seluas 16 hektare miliknya. “Bandenganya kabur semua, hanyut terbawa rob,” keluh Sano.

Sano menjelaskan, ikan bandeng yang dipeliharanya itu telah berumur hampir delapan bulan. Ikan bandeng tersebut akan dipanennya sebulan lagi.

Sano pun mengalami kerugian yang sangat besar. Kerugiannya mencapai sekitar Rp 18 juta per hektare. Namun, Sano tak mau berputus asa. Dia pun langsung menebarkan kembali benih ikan bandeng di lahan tambak miliknya.

Ternyata, hujan deras yang turun pada Sabtu dan Minggu kembali membuatnya merugi. Hujan yang tak kunjung berhenti selama dua hari tersebut telah membuat benih bandengnya kembali hanyut terbawa air tambak yang melimpas. “Dua kali tersapu banjir, hancur semuanya,” tutur Sano.

Saat ini, Rangsih, Sano dan para petambak lainnya di blok tersebut sedang berusaha membersihkan areal tambak yang rusak. Mereka pun berupaya meninggikan tanggul tambak agar tak mudah mengalami limpas ketika terkena rob dan hujan deras susulan. Odok/KC Online