Dishub tidak Tegas Atasi Macet di Kawasan Kuliner Plered-Tengah Tani

KADISHUB Kabupaten Cirebon, Abraham Muhammad berdialog dengan sejumlah pengusaha Kuliner empal gentong dan kue kering di ruang Paseban kantor Setda Kabupaten Cirebon, Rabu (11/1/2017).* Iwan/KC

CIREBON,(KC Online).-

Komisi III DPRD Kabupaten Cirebon kecewa sikap Dinas Perhubungan yang tidak tegas terhadap para pengusaha kuliner di sepanjang jalur Plered-Tengah Tani.

Kekecewaan ini terungkap saat pertemuan antara Dishub, Komisi III DPRD, dan seluruh pengusaha kuliner di ruang Paseban Sekretariat Daerah, Rabu (11/1/2017).

Wakil Ketua Komisi III Sofwan mengatakan, pertemuan ini terkesan hanya sekadar silaturahmi belaka, tanpa ada pemecahan persoalan yang selama ini terkatung-katung, yaitu jalan bebas macet.

“Pertemuan ini bias. Saya pikir, saat Dishub mengundang seluruh pengusaha kuliner pada Senin kemarin yang akhirnya ada pertemuan hari ini (kemarin), akan membahas solusi macet. Tapi nyatanya sampai akhir pertemuan tidak ada solusi,” kata Sofwan seusai pertemuan.

Dalam pertemuan ini, sempat tercetus soal solusi dibangunnya fly over untuk mengurangi kemacetan. Namun menurut Sofwan, pembangunan fly over masih terlalu jauh. Sebab, persoalan di jalan pantura sepanjang Plered-Tengah Tani ini adalah parkir liar yang membuat macet sepanjang jalan.

“Jadi, jangan sampai persoalan di jalan ini adalah menguntungkan segelintir orang, tapi merugikan banyak orang. Dishub harus tegas, persoalannya adalah adanya parkir liar maka yang harus ditertibkan adalah parkir liarnya ini,” katanya.

Sofwan juga menambahkan, DPRD akan menggelontorkan anggaran untuk pengadaan mobil derek. Nantinya, kendaraan yang parkir sembarangan di jalan nasional akan diderek dengan menggunakan mobil tersebut. Selama ini, Dishub belum memiliki mobil derek tersebut, sehingga penindakan tegas terhadap pelanggar parkir di jalan nasional belum bisa dijalankan secara maksimal.

Sementara itu, Kepala Dishub Abraham Mohamad mengatakan, pihaknya akan menempatkan personel Dishub, serta meminta bantuan baik kepolisian, TNI, serta Satpol PP untuk menjaga lalu lintas di sepanjang Plered-Tengah Tani tersebut.

“Kita butuh proses untuk penegakan parkir liar ini. Kita panggil pengusahanya dulu, tidak ditindak secara langsung. Harus ada win-win solution,” kata Abraham.

Bangun “fly over”

Dalam pertemuan ini, menurut Abraham, ada beberapa solusi jangka pendek dan panjang. Di antaranya dengan mengalihkan truk serta mobil besar lainnya melalui tol. Solusi lainnya adalah dengan menempatkan usaha kuliner di pasar batik Trusmi.
“Jangka panjangnya adalah dengan membangun fly over,” ucapnya.

Salah satu pengusaha kuliner, H Apud, yang hadir dalam pertemuan ini mengatakan, selama ini Pemerintah Kabupaten Cirebon selalu menyebutnya sebagai biang keladi kemacetan. Padahal, di jalan raya Tengah Tani di mana usahanya berdiri, banyak juga usaha kuliner lainnya yang menawarkan menu khas empal gentong.

“Tapi kenapa saya yang selalu disebut-sebut? Padahal, empal gentong yang ada di pinggir kanan kiri saya juga sama tidak memiliki tempat parkir,” ujarnya.

Namun, saat ini, Apud mengaku akan mulai membangun lahan parkir untuk menjaga kenyamanan pengendara lainnya di jalan tersebut.
“Saya juga mendukung langkah Pemkab Cirebon jika memang akan membuat fly over,” katanya.(C-11)